Tawakal merupakan penyempurna dari ikhtiar kita. Segala usaha yang telah kita lakukan, semaksimal apapun, tidak akan pernah mencapai seratus persen. Maksimalnya hanya sembilan puluh sembilan persen saja. Sedangkan satu persen sisanya, hanya Allah yang menentukan dan hanya Allah yang mengetahuinya. Jika usaha maksimal tersebut selalu diakhiri dengan tawakal, maka satu persen tersebut akan kita peroleh. Namun jika kita masih merasa belum mendapatkannya, berarti tawakal kita belum sempurna. Surah At-Thalaq ayat 3 menjelaskan bahwa Allah SWT akan mencukupi kebutuhan hamba-Nya yang bertawakal kepada-Nya. Marilah kita hindari perasaan kecewa jika hafalan kita belum sempurna, meskipun usaha keras telah kita lakukan. Serahkanlah semuanya kepada Allah SWT, karena Dialah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Tawakal tidak mengenal kata terlambat selama kita belum berhenti berusaha. Allah SWT Maha Mengetahui apa dan bagaimana yang terbaik bagi hamba-hamba pilihan-Nya. Dan sesungguhnya menghafal Al-Quran bukanlah hanya sekedar menghafal. Menghafal Al-Quran merupakan sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Tidak ada tempat bagi kata “patah semangat”, karena semangat yang sebenarnya tidak pernah patah. Jika seseorang mengaku patah semangat, mungkin ia belum pernah merasakan semangat yang sesungguhnya. Semakin hafalan belum tuntas dan lancar, maka tawakal semakin besar peluangnya untuk hadir. Sudah berapa kali Bapak/Ibu mengulang ayat yang terasa sulit dihafal? Sepuluh kali? Dua puluh kali? Seratus kali? Ataukah seribu kali?
Sebanyak apapun pengulangan yang dilakukan, tetaplah jumlah itu sedikit dan belum sebanding dengan nikmat Allah SWT yang telah diberikan. Misalnya, jika hafalan baru tuntas pada pengulangan keseratus, janganlah dianggap pengulangan pertama tidak berarti. Pengulangan keseratus tidak akan tercapai tanpa pengulangan pertama. Justru, satu kali pengulangan pertama jauh lebih bermakna daripada pengulangan keseratus. Mengulang satu ayat seratus kali sama dengan membaca seratus ayat. Bapak/Ibu akan mendapatkan keberuntungan yang besar jika pada setiap pengulangan tersebut, disertai dengan doa.
Bayangkan Anda berupaya memecah batu yang sangat keras menggunakan palu besar. Setelah pukulan pertama, batu tersebut masih utuh. Begitu pula pukulan kedua hingga kesembilan. Baru pada pukulan kesepuluh, batu itu akhirnya hancur. Apakah pukulan-pukulan sebelumnya tidak berpengaruh? Tentu saja sangat berpengaruh. Pukulan kesepuluh tidak akan terjadi tanpa pukulan pertama, kedua, dan seterusnya.
Dalam riwayat yang ada, Imam Abu Ishaq Al-Syirazi, ulama besar mazhab Syafi’i, mengulang hafalannya seribu kali untuk setiap qiyas (kalimat silogisme). Beliau tidak melanjutkan hafalan qiyas berikutnya sebelum benar-benar menyelesaikan pengulangan seribu kali tersebut. Hasilnya sungguh menakjubkan. Imam Abu Ishaq Al-Syirazi mampu menghafal masa’il al-khilaf (perbedaan pendapat para ulama seputar fiqih yang berjilid-jilid) selayaknya menghafal Surat Al-Fatihah.
Tawakal sejati hanya dimiliki oleh mereka yang sungguh-sungguh dan bersemangat dalam berusaha. Mengambil perumpamaan dari tukang bor sumur, “Jika menemukan batu saat pengeboran, kami sangat gembira. Itu pertanda telah menemukan sumber air.” Begitu pula, jika seorang penghafal Al-Quran menemui kesulitan, ia tidak akan berhenti selama ia bertawakal. Karena, itu pertanda telah mendekati sumber ilmunya.
Pelebaran atau perbaikan jalan raya memang kerap menimbulkan kemacetan sementara. Namun, setelah selesai, lalu lintas akan menjadi lebih lancar daripada sebelumnya.
Mengapa hafalan Anda terhambat? Jawabannya, karena sebentar lagi akan lancar. Sebaiknya jangan menyerah saat menemui kesulitan. Karena, itu berarti tidak putus asa.