Ali bin Abi Thalib pernah mengadu tentang hafalan Al Qurannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi ayah dan ibuku, hafalan Al Qur’an ini terlupakan dari ingatanku, dan aku tidak mampu mengembalikan hapalan itu.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan doa berikut,
الَلّهُمَّ أَنْ أَسْأَلُكَ أَنْ تُلَزِّمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابَكَ، كَمَا عَلَّمْتَنِيْ وَاْرُزقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يَرْضِيْكَ عَنّيِ
Allahumma an as aluka an tulazzima qalbii hifzha kitabaka, kama ‘allamtanii warzuqni an atluwahu ‘alan nahwilladzi yardhiika ‘annii.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar memenuhi hatiku dengan hapalan akan kitab-Mu, sebagaimana Engkau mengajarkan kepadaku. Karuniakanlah kepadaku agar dapat membacanya sesuai dengan yang Engkau ridhai dariku.” (HR. At-Tirmidzi)
Ada sebuah cerita yang dikutip dari kompilasi kalam Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas, ada seorang laki yang sowan kepada Rasulullah Muhammad Saw. Ia mengeluh, “Ya Rasulallah, sungguh, saya ini adalah orang yang pelupa. Tolong ajari kami sesuatu.”
Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajarkan doa:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ نَفْسِيْ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وتقنع بعطائك، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ
Allahummaj’al nafsi muthmainnatan tu’minu biliqaika wa taqna’u bi’athaika wa tardha biqadhaika
“Ya Allah, jadikanlah jiwaku tenang, mengimani perjumpaan dengan-Mu, merasa cukup dengan pemberian-Mu, dan ridha dengan ketentuan-Mu.”